MENILAI KINERJA DAN KUALITAS PEMIMPIN NEGARA/DAERAH

Selama ini bangsa kita selalu dihadapkan pada kerancuan dalam memilih pemimpin baik tingkat nasional, provinsi, kabupaten dan kota. Masyarakat selalu dihadapkan pada ketidakpastian kualitas, kapasitas, pengetahuan dan pengalaman calon pemimpin yang akan dipilih. Sementara media massa dan media sosial seringkali membenturkan masyarakat pada pilihan dengan promosi yang tidak mendidik dan pencitraan. Banyak berita yang beredar hanya Hoax atau sumber hoax. Akhirnya rakyat Indonesia dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka tidak mengenal secara teknis siapa yang akan dipilihnya. 

Timbul ironi yang dilematis, bahwa rakyat di negara raksasa demokrasi bernama Indonesia ini dihadapkan pada fatamorgana atau bahkan ilusi kepemimpinan. Akibat bombastisnya para influencer (volunteer atau berbayar) mempromosikan dagangan pemimpin, rakyat akhirnya seolah-olah membeli kucing dalam karung. Pemimpin yang akan mereka pilih dipoles sedemikian rupa dan rakyat dicekoki dengan nilai-nilai subjektif individu sang calon pemimpin. 

Saya Sangat Tidak setuju jika mengukur kinerja seorang pemimpin dari nilai-nilai subjektif individu seperti: Cerdas, Ramah, Merakyat,  berpenampilan seolah-olah agamis, dll. Ukuran nilai subjektif ini hanya akan menggiring pada penyebaran Hoax, fitnah dan saling ejek dan saling hina. Oleh karena itu, mulai sekarang kita harus membuang jauh-jauh kebiasaan bodoh ini dengan merubah pandangan dan cara menilai pemimpin. Dibawah ini, saya sampaikan sedikit pemikiran cara menilai pemimpin dan atau calon pemimpin di negeri ini. 

Kita harus terbiasa menilai pemimpin dari kinerja sbb:

1. Kapasitas, kapabilitas, pengalaman dan pengetahuan menyelesaikan masalah sosial, politik, ekonomi, kemasyarakatan, etnisitas dan aspek-aspek lain yang melingkupinya. 

2. Nilai-nilai positif pembangunan dan pemerataan ekonomi secara makro dan mikro, pengetahuan aspek-aspek fiskal dan moneter, termasuk didalamnya pengelolaan consumer expenditure, investment, goverment expenditure, net export benefit. 

3. Kemampuan mensejahterakan dan memakmurkan rakyat, pemerataan kesejahteraan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. 

4. Kapasitas dan kapabilitas untuk membangun dan mengelola wilayah, tata ruang, infrastruktur, alokasi sumberdaya. 

5. Kemampuan meningkatkan IPM secara signifikan dan merata di seluruh wilayah Indonesia. 

6. Mampu mengangkat derajat dan kehormatan bangsa Indonesia di mata dunia dengan berbagai parameter dan indikator baku yang berlaku secara global. 

7. Mampu merangkul dan membangun sinergi seluruh elemen masyarakat. Pemimpin tidak boleh hanya jadi menara gading dan hanya memihak pada sekelompok orang. Pemimpin harus mampu merangkul dan membangun sinergi masyarakat lapisan atas, menengah dan grass root. Tanpa kemampuan ini, jangan harap visi dan misinya berhasil. 

Dengan 7 tolok ukur di atas, setidaknya polarisasi yang terjadi di masyarakat dapat dikurangi sampai batas minimal. Keberhasilan memilih pemimpin berdasarkan kriteria seperti di atas akan menjadikan Indonesia sebagai negara demokrasi yang sesungguhnya. 

Semoga bermanfaat. Jika ada yang kurang, silakan ditambahkan.

#mengukur_kinerja_pemimpin

#menilai_presiden

#menilai_gubernur

#menilai_walikota

#menilai_bupati





Comments

Popular Posts