NEGERI MERDEKA DIJAJAH BANGSA SENDIRI

Endih Herawandih

Ketika bangsa Indonesia baru merdeka, negara tidak memiliki apa-apa. Rakyat bahu membahu menyumbangkan tenaga, harta dan raganya. Pengusaha mikro, kecil dan menengah skala lokal menjadi tulang punggung perekonomian negeri. Tengoklah bangsa Aceh yang secara sukarela menyumbangkan hartanya. Tengoklah kesultanan-kesultanan yang menyerahkan asetnya untuk Indonesia dan melikuidasi hartanya untuk membangun Indonesia.
Tetaplah bersemangat saudaraku penggiat dan pelaku UMKM, tetaplah membangun negeri ini ditengah hiruk pikuk basa basi pemimpin negeri.
Apa yang telah diperbuat pemimpin negeri ini? Hanya sebuah ucapan terima kasih yang kemudian hilang ditelan angin surga janji-janji keadlian dan pemerataan. Kehadiran pengusaha pribumi skala mikro, kecil, dan menengah seolah menjadi sejarah tak tertulis. Mereka hanya menjadi cerita sandiwara radio. Mereka digantikan oleh konglomerat yang entah datang dati mana. Pada masa penjajahan mereka memihak penjajah, masa kemerdekaan mereka menjadi penerus penjajah. Konglomerasi ditandai dengan mulainya industri pangan skala besar, kemudian diikuti industri otomotif. Namun nampaknya konglomerat tidak puas hanya sampai disitu saja.
Euphoria konglomerasi juga mewabah sampai gorengan dan cemilan. Lihatlah sekarang, terasi pun menjadi milik konglomerat, maka matilah pengrajin belacan dan terasi tradisional. Demikian juga kerupuk, sambel, kecap, beras, tempe, tahu, minyak kelapa, kembang gula, kue kering. Bukan karena rakyat pribumi tidak mampu, tapi kebijakan dan kemudahan tidak memihak pengusaha kecil. Karena pengusaha kecil tidak mau menyogok.
Berkembangnya konglomerat raksasa menjadikan usaha mikro, kecil dan menengah menghapuskan kekuatan ekonomi lokal dan digantikan ekonomi gaya industri kapitalis yang menggantikan mimpi indah kemajuan bangsa dengan mimpi buruk tanpa akhir. Kini setelah 40 tahun konglomerasi di segala sektor ekonomi, menjadikan anak bangsa menjadi budak jajahan tanpa akhir di negeri sendiri. Kemerdekaan ekonomi dan hak hidup bebas bangsa agraris hanyalah retorika dalam kitab undang-undang dasar. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia hanyalah lukisan indah di dinding sekolah yang sudah mulai usang ditelan zaman. Kemanusiaan yang adil dan beradab hanyalah omong kosong untuk meninabobokan anak cengeng yang mengemis mencari pekerjaan sebagai kuli di perusahaan konglomerat. Akhirnya terciptalah bangsa kita sekarang yang selalu sibuk dengan perebutan kekuasaan, karena kekuasaan identik dengan kemewahan hidup bangsa serakah. Keserakahan untuk menjadi koruptor dalam segala bidang. Pemerintahan bangsa kita hanyalah legislator bagi kemerdekaan konglomerat yang bebas mengeruk seluruh kekayaan bangsa ini dari segala sudut-sudut.
Kapasitas dan kapabilitas pengusaha mikro, kecil dan menengah tidak usah diragukan lagi. Bukti krisis 1967, 1998, 2008 menunjukkan bahwa mereka tetap bertahan sambil terseok-seok tanpa mengemis kredit atau memperoleh bantuan likuidasi. Mereka tetap semangat meski harus memeras keringat dan tenaga habis-habisan untuk sekedar mempertahankan keberadaan mereka. Tapi apa yang mereka dapat? Mereka tetaplah anak tiri yang tidak disusui penguasa negeri. Mereka tetap menjadi pilar pilar saksi keangkuhan kapitalis. Mereka menyingkir tanpa melawan, karena kalau melawan, nyawa, raga dan harta menjadi taruhan.

Comments

Popular Posts