Apakah Kita Bangsa Bermartabat


Endih Herawandih


Bangsa kita memang belum pernah lepas dari permasalahan pelik yang sebenarnya sepele. Hanya saja kepentingan penjajah selalu menang dalam setiap langkah kehidupan berbangsa dan bernegara. Setelah terlepas dari penjajahan Portugis, Belanda menjadi penjajah yang tanpa henti menghabiskan seluruh sendi kehidupan bangsa, diselingi Inggris yang hanya sebentar. Belanda pergi, Jepang mengganti untuk sementara, kemudian balik lagi. Namun ada catatan penting, bahwa selain penjajah murni kolonialis, ada bangsa Asia lainnya yang selalu memihak penjajah tetapi sekaligus ikut memposisikan diri dan menjadi bagian dari bangsa ini. Demikian juga ada sebagian rakyat pribumi yang ikut menjadi bagian dari penjajah.
Kemerdekaan yang diproklamirkan Soekarno dan Hatta merupakan tonggak sejarah awal berdirinya Republik bernama Indonesia. Harapan rakyat atas kemerdekaan sungguh luar biasa besarnya. Rakyat bahu membahu berperan serta akrid dalam mempertahankan kemerdekaan selama periode recolusi dari tahun 1945 sampai tahun 1950. Namun ternyata kemerdekaan yang diperoleh dengan darah dan jiwa raga anak bangsa telah membawa pada ketidak selarasan antar peringgi dan tokoh bangsa. Ada berbagai kemelut yang akhirnya dimanfaatkan oleh para penjajah baru untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya.
Tercatat dalam sejarah bangsa kita, bahwa mempertahankan kemerdekaan saja tidak selamanya mulus. Memang sangat dipahami mengingat besarnya wilayah, beragamnya pola pikir, beragamnya tujuan lehidupan masing-masing dan beragam pula sikap dan tindakan manusia yang berkiprah pada tingkat peringgi negeri. Akibat keberagaman itu membawa dampak positif sekaligus juga menyisakan dampak negatif dwngan timbulnya berbagai duri dalam daging yang mengakibatkan sakitnya bangsa ini. Akibat sakit yang berkepanjangan, bangsa ini berjalan tanpa arah. Akhirnya, arah negara ditentukan segelintir orang yang mau tidak mau membawa bangsa ini pada ketijakjelasan prinsip bernegara dan ketidakjelasan lamdasan membangun negeei yang berwibawa dan berdaulat.
Berbagai faksi dan kelompok dalam negara juga tumbuh. Demikian juga ada faksi dan kelompok yang timbul tenggelam mengikuti irama pasang surut kepemimpinan dan gejolaknekonomi negeri. Faksi non religius dan ernisitas seringkali bergerak tanpa memikirkan dampak negatif yang luas karena memang keadaannya waktu itu tidak memungkinkan untuk membuat rencana strategis yang matang. Demikian juga faksi religius membuat sikap dan tindakan yang didasari landasan ideal teologis. Berbagai bentuk gerakan religius dan non religius terswbut telah membawa keberagaman yang tidak selamanya sejalan yang akhirnya membingungkan rakyat. Masing-masing membawa tujuan dan sasaran yang seringkali tidak sinkron.
Di masa awal perjuangan revolusi, warna pergerakan sering menjadi cikal-bakal perpecahan bangsa. Demikian pula perbedaan pandangan antara elit tingkat nasional, antara elit nasional dengan daerah dan atar elit daerah seringkali berakhir dengan kesepakatan semu yang sana sekali tidak menguntungkan semua pihak. Memang, adalah lumrah, negeri raksasa baru merdeka yang hanya memiliki segelintir tokoh nasional berpendidikan tinggi, di awal revolusi pasti menghadapi gejolak seperti ini. Belum lagi masalah internal pucuk pimpinan negara yang selalu tidak sejalan sampai akhir. Namun inilah bukti bahwa bangsa kita tidak pernah membangun kesepakatan bangsa untuk mencapai tujuan cita-cita bersama. Keadaan itu sekaligus menjadi cermin bagi kita bahwasanya Penjajah Belanda telah berhasil mengacak acak dan mengadu domba seluruh elit negeri selama masa penajajahan, karena tidak bisa dipungkiri, bahwa yang menjadi pemimpin di masa revolusi, seluruhnya adalah didikan Penjajah Belanda.
Setelah semua penjajah Eropa hengkang secara fisik, dan berakhir secara de yure pada tahun 1950, selanjutnya bangsa campuran berbagai etnis yang telah memproklamirkan diri pada tahun 1945 dalam satu wadah bangsa bernama Indonesia. Perebutan pengaruh berbagai kepentingan, menyebabkan bangsa Indonesia dijajah bangsa sendiri. Mengapa saya katakan demikian? Karena faktanya memang tidak ada perbedaan signifikan antara kondisi ketika masih dijajah bangsa Belanda, Jepang dan dijajah bangsa sendiri. Bangsa yang masih lemah ini menjadi bulan-bulanan para pencari keuntungan.
Rakyat yang sejatinya pemilik kekayaan sumberdaya alam, dianggap tidak ada. Segala keputusan diambil oleh para elit tertinggi bangsa tanpa pernah melibatkan rakyat secara langsung. Bahkan ketika keputusan membuka areal tambang, perkebunan, HPH bahkan pembangunan fisik, jika ada rakyat di sekelilingnya, rakyat tersebut diusir tanpa ada rasa bahwa pemilik sumberdaya adalah rakyat. Yang sangat menyedihkan adalah ketika dibutuhkan tenaga kerja, rakyat sekitar hanya menjadi penonton, kalaupun diberi pekerjaan, mereka berada pada kasta paling bawah. Inilah yang saya maksud sebagai penjajahan oleh bangsa sendiri.
Setelah periode awal kepemimpinan presiden yang tidak pernah berganti hampir 21 tahun, bangsa Indonesia belum menjadi bangsa yang spenuhnya menjadi Tuan rumah di negeri sendiri, malah timbul malapetaka yang akan selalu dikenang dalam sejarah bangsa. Pemimpin negeri yang baru pun muncul. Perbedaan dengan pemimpin pertama terletak pada kebiasaan masing masing. Jika pemimpin pertama ahli pidato yang menggebu-gebu dan memukau seluruh pendengarnya, pemimpin yang kedua lebih banyak diam dan tersenyum. Sebagai jenderal sangat mengedepankan strategi dan aplikasi teknis perang dalam kehidupan bernegara. Dalam periode kedua-lah terjadinya pembangunan fisik besar-besaran, meskipun lebih terfokus pada provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan DIY. Sedangkan hasil pembangunan daerah lain, nampaknya tidak signifikan jika dibanding 3 daerah tersebut.
Keberhasilan terbesar yang diakui dunia adalah pencapaian swasembada beras. Pada era kepemimpinan kedua-lah Indonesia disegani dan dianggap sebagai macan Asia. Namun tentunya, sstiap kemajuan menyisakan dampak negatif selain dampak positif. Ada masalah besar yang tidak akan pernah hilang dalam sejarah. Kedekatan dengan pengusaha yang berjiwa kapitalis menyebabkan tersingkirnya pengusaha pribumi. Pribumi yang tadinya berusaha tanpa membebani perekonomian negara akhirnya hanya memperoleh sisa sisa dan tidak sanggup bersaing dengan kapitalis yang mengandalkan modal pemerintah. Tentu kita masih ingat bagaimana proses awal import terigu dan imporr otomotif yang berubah drastis setelah kelompok itu masuk. Semua berubah dan semua seolah diatur mereka. Tahun 1986 adalah awal konglomerasi di segala bidang. Pasar tradisionalpun mulai disaingi dan seluruh sistem rantai pasok di negeri yang sangat besar ini hanya dikuasai segelintir orang dengan perlindungan rezim pemerintah yang berkuasa.
Tahun 1995, adalah awal penghiatanatan konglomerat yang selama ini dilindungi sepenuhnya oleh rezim. Mereka sudah kaya raya dan hampir tidak ada celah untuk kelompok lain untuk menguasai perekonomian secara masif. Kini semuanya mulai memasuki era baru. Kalau dulu pada rezim ORBA mereka fokus pada perekonomian dan kemajuan pendidikan di kalangan mereka sendiri, sekarang kelompok itu ingin menguasai lebih luas dan lebih besar dari sekedar ekonomi. Ya.... mereka ingin menguasai negeri ini aepenuhnya. Mereka mentargetkan untuk menjadikan presiden dari kalangan mereka sendiri. Bernekal hasutan, adu domba dan penghianatan terhadap kpemimpinan negara, mereka sudah mempersiapkan beberapa skenario untuk Pemilihan Presiden 2019. Simbol-simbol kekuasaan mereka kini telah dipertontonkan secara terbuka. Bahkan mereka telah menetapkan calon presiden dari kalangan mereka sendiri.
Bangsa pribumi lengah dan bahkan termakan adu domba yang setiap hari diperkuat dan diperbaharui. Kekuatan uang benar-benar telah menghancurkan sendi-sendi kebersamaan, persatuan dan keeukunan. Kini pribumi sibuk sendiri mengutak atik dukungan terhadap orang yang dianggap pas tanpa memperhatikan dengan saksama gerakan masif yang akan menghancurkan indonesia seperti yang terjadi pada Tibet dan Turkistan. Bahkan pribumi Indonesia kini merasa malu untuk mengatakan "SAYA PRIBUMI". Yang lebih menyakitkan, jika kita mengatakan kata pribumi, seolah sama dengan mengatakan barang haram.
Lihatlah rombongan orang berbadan tegap secara terbuka mengalir deras masuk ke negeri ini tanpa rasa risih atau malu malu. Mereka penuh rasa percya diri sambil seolah mengisyaratkan: "Saya Akan Kuasai indonesia". Aparat pemerintahpun seolah bungkam, entah karena disusupi jin atau memang sudah perintah dari atas. Yang lebih mengeherankan lagi, semua serbuan manusia asing aseng itu seolah terencana dengan baik. Setiap ada statement dari bawah tentang keberadaan pasukan TKA secara besar-besaran, selalu dibantah oleh pemimpin negara. Bahkan menuduh orang yang membuat statement sebagai penyebar berita bohong.
Membanjirmya TKA menjadi ngangguan bagi stabilitas jiwa raga dan harmoni sosial pribumi dimana mereka berada. Tentu kecemburuan yang diakibatkan ketimpangan sosial ekonomi akan sangat merugikan kondisi fisik warga setempat. Memang investasi adalah salahsatu cara untuk membangun ekonomi negeri, tapi bukan berarti investasi harus diriingi invasi. Jangan karena alasan investasi terus membiarkan mereka menginvasi negara kita. Kalau sudah seperti tibet, baru menjerit. Apakah para elit politik dan pemimpin negara tidak pernah punya rasa empati kepada rakyat sendiri? Kalau tidak berempati kepada pribumi untuk apa dipilih?
Sudah waktunya bangsa indonesia menunjukkan kewibawaan. Berwibawa di negeri sendiri dan berwibawa di hadapan bangsa asing. Oleh karena itu pemimpin bangsa ini haruslah memiliki keberanian bersikap, bertindak dan berdiplomasi. Bukan cuma bisa cari-cari alasan dan cari pujian. Bagi kaum pribumi, harus memiliki keberanian untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan. Jangan hanya berdiam diri dijajah bangsa sendiri di negeri sendiri. Singapura adalah conroh nyata di depan kita. Bangaimana negeri melayu bertranformasi drastis, kini bangsa Melayu hanya menjadi pelengkap di Singapura. Apakah kita mau seperti itu?

Comments

Popular Posts